Refleksi; Ahok Terkapar

Refleksi; Ahok Terkapar

Jakarta – Dari beberapa referensi bacaan, Saya menuliskan surat buat Ahok kemaren ketika melewati Mako Brimob.

Saya tidak tahu, surat Saya diterima Pak Ahok atau tertahan di pos penjagaan tanpa pernah dibaca beliau.

Biarlah Tuhan mengaturnya apakah surat ini terbaca atau berhenti di tempat sampah.

Pernah satu waktu, menjelang tengah malam Saya mendoakan seseorang yang berbeda agama dengan saya, tapi tetap mulia di mata saya.

Dia Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Bagi saya, Ahok adalah sebuah catatan serius tentang sejarah dari kezaliman mayoritas atas minoritas.

Ahok adalah seorang anak bangsa yang ingin menjaga negaranya, dan menempatkan semua secara setara.

Karena satu kekhilafan yang semestinya masih bisa dimaafkan, terhalang bekerja untuk negaranya.

Bagi sebagian orang, Ahok dipandang sebagai penghalang. Ada ambisi dan kerakusan yang menguasai lawan-lawannya, sementara Ahok harus bertarung sendiri.

Ahok terkapar … !!!

Meski Ahok berdiri sendiri, Ahok tetap satu sosok yang besar. Butuh jutaan orang untuk menghadapi Ahok yang sendirian.

Jutaan orang memilih menutup mata melihat kebaikannya, dan memilih melihat satu kekurangannya saja.

Yaitu dalam cara bicara.

Ahok dihantam dan diserang. Jutaan orang melayangkan batu-batu hujatan dan fitnah, hingga ia babak belur sendirian.

Apakah yang jutaan orang itu sbg pemenang ?

Tidak … !!!

Pemenang itu hanya mereka yang bertarung dengan jiwa ksatria. Bukan mereka yang menghalalkan segala cara.

Satu orang yang terkapar oleh jutaan orang, bukanlah orang kalah. Ialah pemenangnya.

Ahok menang, karena Ahok mampu menguasai dirinya untuk tetap berdiri pada aturan. Tetap menghormati aturan.

Penjara bukan bukti bahwa Ahok kalah. Dia menang, karena berhasil meninggalkan pesan penting yang akan dicatat sejarah.

Pemberani tak pernah takut untuk sendiri … !!!

Apakah jutaan orang yang mengeroyok dia yang sendirian adalah pemenang ?

Bagi Saya TIDAK … !!!

Hanya pecundang yang membuang tenaga terlalu besar untuk menghantam satu orang yang belum tentu salah.

Jutaan orang berpesta karena merasa menang telah menenggelamkan satu orang. Mereka berpikir Tuhan akan begitu saja berpihak kepada mereka.

Mereka lupa, anggapan mereka bahwa Tuhan di pihak mereka karena jumlah mereka yang besar, hanya sekadar anggapan.

Mereka sendiri tidak tahu, apakah Tuhan benar-benar tersenyum atas hasil pekerjaan mereka atau justru sebaliknya.

Apalagi mereka hanya membanggakan besarnya jumlah dan bahkan lupa jika Tuhan Maha Besar, jauh di atas jumlah mereka.

Tuhan masih bisa menunjukkan kebesaran-Nya meski hanya yang berjumlah sedikit yang mengikuti pesan-Nya;

Untuk tidak menzalimi dan tidak menganiaya.

Dia Maha Besar dan tak sulit menghancurkan yang besar jika mereka yang merasa besar membiarkan kedzaliman membesar.

Untukmu yang terpenjara di sana, Tuhan takkan memenjarakan doa-doa baik yang ditujukan untukmu di sana.

Bukan tak mungkin Tuhan memberikan kedamaian atasmu lebih besar di penjara sana, daripada mereka yang merasa menang di luar penjara.

Ada kemenangan sesaat dan ada kemenangan abadi.

Kau menang karena mampu untuk tak mencuri ketika kau justru bekerja di sekeliling para pencuri.

Kemenanganmu itu abadi, meski langkahmu telah dihentikan mereka untuk sesaat.

Bukan hanya penjara, kuburan yang sempit pun akan tetap terasa luas bagi mereka yang lebih dulu melapangkan hati dan pikirannya.

Didzalimi tapi tak mendzalimi, dianiaya tapi tak menganiaya, dihasut tapi tak menghasut.

Dunia yang luas dapat saja terasa terlalu sempit bagi hati dan pikiran yang disesaki dendam, kebencian, dan nafsu angkara mereka.

Kau sama sekali tidak menzalimi siapa-siapa, pastilah Tuhan takkan menzalimimu.

Kalaupun mereka mampu memenjarakanmu, Tuhan takkan menghalangi kemuliaan yang Dia berikan untukmu.

Mako Brimob, 24 April 2018

A.Nugroho