Rupiah Anjlok, Kerusuhan Mako Brimob Bohongan?

Rupiah Anjlok, Kerusuhan Mako Brimob Bohongan?

PEKANBARU – Kembali, Nilai tukarrupiah terpuruk sejak senin 7/5 lalu. Kurs spot rupiah pada tanggal 9/5 terus melemah hingga 0,26 persen menjadi Rp 14.064 per dollar (AS) yang pada sebelumnya rupiah tembus Rp 14.036. Sejarah mencatat bahwa kondisi anjloknya nilai rupiah di pemerintahan JOKOWI – JK ini menjadi catatan terburuk pada saat krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998.

Namun disisi lain dalam moment yang sangat krusial, kembali masyarakat indonesia dibuat heboh oleh sebuah kejadian yang sekiranya memberikan dampak secara psikologis manusia dalam memecah konsentrasi masyarakat yaitu kerusuhan di Mako Brimob Bogor.Dikabarkan 6 orang tewas diantaranya 5 petugas aparat kepolisian dan 1 orang narapidana yang secara kebetulan juga tempat dimana basuki jahja purnama alias ahok di Tahan atas kasus penistaan agama beberapa bulan yang lalu.

Kejadian serupa ini tidak terjadi kali ini saja, pada masa pemerintahan JOKOWI – JK, beberapa moment kejadian tercatat pada masa pemerintahan JOKOWI – JK diantaranya seperti kasus yang diduga terorisme pada Bom sarinah Thamrin jakarta 14/06/2016 lalu bertepatan saat hari terakhir divestasi saham PT. Freeprot di Indonesia.

Pada masa pemerintahan sebelumnya dimoment ketika pemberlakuan harga baru BBM di Indonesia pada tahun 2005 masa pemerintahaan SBY masyarakat indonesia kembali dihebohkan dengan kasus Bom di Bali. Kejadian ini menewaskan sedikitnya 21 orang tewas dan 70 lainnya luka-luka.Namun Pemerintah langsung membantah ledakan tersebut disengaja untuk mengalihkan isu BBM (Bahan Bakar Minyak).

Hal ini tentu mengundang sebuah pertanyaan mendasar dikalangan publik apakah semua hanya kebetulan? atau ada sebuah skenario besar pengalihan isu untuk masyarakat dalam mengawasi seorang pemimpin negaranya.

Secara kepercayaan antara tuhan dengan makhluknya, kata “kebetulan” tentu sudah terbantahkan oleh firman Allah SWT dalam QS Ali Imran 140 yang artinya: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada”.

Tentu dari penggalan ayat tersebut seolah mempertegas bahwa roda kehidupan memang selalu berputar. Namun demikian kondisi ini tidaklah abadi melainkan bisa berubah sesuai kehendak allah, karena allah ingin mempelihatkan kekuasaannya kepada setiap hambanya yang selalu bersyukur dan bersabar menghadapi nikmat dan musibah yang sedang dihadapi. Artinya kata sebuah “kebetulan” itu juga tidak ada dalam dunia ini.

Namun demikian, berbicara tentang kekuasaan ada sebuah pendapat dari seorang penulis dan merupakan dosen filsafat UI (Universitas Indonesia) mengatakan “Pembuat hoax terbaik adalah penguasa, karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik punya, media punya”.

Selaras dengan pendapat tersebut seakan meyakinkan kita bahwa kata kebetulan juga tidak ada dalam alam semesta ini. Yang ada hanyalah orang – orang yang sedang mencoba mempertahankan sebuah kecacatan seorang pemimpin untuk ditutupi agar terlihat sempurna dimata orang lain. Akhirnya banyak nyawa yang dikorbankan untuk menyempurnakan kebohongan tersebut agar skenario yang sudah diatur dapat berjalan dengan baik.

Pertanyaan yang mungkin terlintas dibenak ini adalah jenis gaya kebohongan semacam apa ini?. Joseph goebbels seorang doktor filsafat kelahiran Rhineland, Jerman, 29 Oktober 1897 ini, dikenal sebagai “bapak kebohongan modern” pendapatnya menuai kontroversi setelah ia menyampaikan bahwa Bohong itu indah. Tak banyak yang ia sampaikan mengenai Teori Kebohongan yang dimaksud namun yang terkenal sampai ke indonesia adalah “Kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus dan sistematis akan berubah menjadi ( seolah – olah ) kenyataan” teori yang lain Joseph goebbels juga menyampaikan bahwa kebohongan sempurna adalah kebenaran yang dipelintir sedikit.

Teori ini sangat terkenal didunia bahkan di Indonesia juga memakai teori ini untuk menjaga kestabilan pemerintahanya, namun teori ini tidak cukup ampuh untuk negara plural dan agamis seperti indonesia.Dengan karakter masyarakat indonesia plural dan agamis tersebut membuat masyarakat indonesia lebih cendrung percaya kepada alim ulamanya dari pada pemimpinnya negaranya sendiri.Padahal media di Indonesia sudah berperan aktif untuk membombardir isu – isu positif untuk menutupi kebohongan tersebut.

Namun tetap saja masih bocor entah apa yang salah, namun teori ini memang tidak cocok untuk indonesia sendiri, bukan karna alim ulamanya yang pandai mematahkan teori tersebut atau bukan karena masyarakatnya lebih relijius percaya dengan alim ulamanya namun penguasa di Indonesia tidak benar – benar menajalankan teori Joseph goebbels “kebenaran yang dipelintir sedikit” malahan penguasa indonesia melahirkan teori baru yaitu “kebenaran yang tipis untuk menutupi kebohongan yang besar”. Akhirnya teori kebenaran yang tipis tersebut terbuka sehingga masyarakat indonesia dengan sigap melihat kebeneran yang directly dan tak terbantahkan.

Ya…kebohongan ini mengingatkan kita pada pada kasus percintaan anak – anak zaman duhulu. Lewat sepucuk surat ia menyampaikan kepada kekasihnya yang bertuliskan “aku sangat cinta sekali padamu” seakan – akan ingin mempertegas bahwa dunia ini bisa kiamat apabila kisah cinta ini tidak dilanjutkan “Gunung kan ku daki, Laut kan Kusebrangi”. Sampai pada akhirnya kekasinya terperangah melihat sepucuk surat yang menyampaikan kesan dan pesan yang sangat berarti. Karna ia tahu bahwa dibawah tulisan tersebut ia mengetahui sang jantan hanya memberikan kepalsuan dan gombal belaka “nanti malam kalau tidak hujan aku akan kerumahmu”

Sementara pada kalimat sebelumnya “Gunung kan ku daki, Laut kan Kusebrangi”
Inilah yang menjadi perhatian bersama,jika memang segala kejadian tersebut yang terjadi berdasarkan real apa adanya seharusnya ini menjadi catatan khusus bagi aparatur negara untuk lebih memproteksi dari segi keamanan untuk menjamin ketentraman dari setiap warga negaranya.

Namun jika ini harus berulang kali terjadi maka hanya ada dua kemungkinan, yang pertama aparatur negara tidak berusaha berbenah dari kesalahan dan keteledorannya atau yang kedua ada konseptor besar dibalik setiap kejadian tersebut yang dilindungi untuk menutupi tabiat sebuah pemimpin yang dinilai bobrok.

Oleh: Heri Kurnia
Ketua Bidang PAO HMI Cabang Pekanbaru