Menguak Oscar Sang Direktur Eksekutif Ines

Menguak Oscar Sang Direktur Eksekutif Ines

NUSANTARATIMES Dalam Survei Indonesia Network Election Survei (INES), elektabilitas Ketua Umum Prabowo Subianto mengungguli petahana Presiden Joko Widodo.

Hasil survey INES memang mengejutkan, namun tidak sedikit hasil survey lembaga itu di pertanyakan kreadibitasnya oleh berbagai pihak. Saya tidak usah sebut siapa mereka silahkan saja buka di geoogle.

Kalau saya ibaratkan hasil survey INES seperti kelompok radikal yang saat ini bergentayangan dan tergolong yang paling aktif dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut dapat dilihat dari sejumlah survey yang di lakukan. Yang terbaru misalnya, hasil Survei INES, elektabilitas Jokowi hanya 27,7%. sementara itu, elektabilitas prabowo subianto mencapai 50,2%.

Lembaga ini sebenarnya mereka akui sendiri sebagai salah satu lembaga paling aktif di Indonesia saat ini dalam memenangkan pilkada di beberapa tahun terakhir. Serangan yang muncul di Jakarta dan tempat lain didominasi kelompok ini. Ujar FOUNDER ANIES – SANDI WATCH, Abdullah Kelrey, Minggu, (20/05)

Kenapa ini selalu buat kejutan dan mereka kuat serta berani buat kejutan seperti penyerangan bom bunuh diri, hal ini karena mereka memiliki donator dari amerika serikat. Ujar Kelrey dalam release yang di terima wartawan. Lebih lanjut lagi, Kelrey mengatakan bahwa, hal tersebut sangat di akui oleh Arif Puyono sebagai mana dalam wawancaranya dengan detikX sebagai berikut : “Poyuono, sempat mendatangkan ahli bernama Gerard Sanders dari Stanford University, Amerika Serikat, untuk melakukan supervisi. Poyuono juga menyebut Sanders adalah tim kampanye Presiden Donald Trump. Sampai saat ini, INES pun masih mendapatkan bantuan dana dari pihak tersebut.”

“Kita INES Stanford University kita datengin. Nah, INES dapat donornya dari sana. Makanya INES nggak terima pesanan. Lembaga donor. Dari Amerika lah. Mereka (INES) dapat setiap tahunnya berapa miliar rupiah. Mereka mengajukan proposal tiap tahun,” katanya.” berikut link wawancaranya : https://x.detik.com/detail/investigasi/20180519/Antara-INES,-Gerindra,-dan-Dana-Miliaran-dari-Amerika/index.php

Jadi sudah jelas INES ini adalah titipan kapitalis yang mencoba meyakinkan masyarakat indonesia tentang Mantan Danjen Kopasus tersebut agar bisa di pilih pada pilpres 2019 mendatang, jadi masyarakat wajib tahu bahwasanya pertarungan pilpres 2019 bukan Prabowo dengan Jokowi, tetapi pertarungan antara Amerika dengan Jokowi. Ujar Kelrey

Selain itu kita lihat sepak terjang nya direktur INES Oskar Vitriano, menurut sumber yang saya dapatkan, ia (Oscar) kerap mengaku sebagai staf ahli dan orang dekat Direktur Jenderal (Dirjen) Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Sambung Kelrey

Jika benar, maka indikasi masuknya kepentingan asing terutama Amerika dalam propaganda politik bertajuk survey merupakan ancaman yang layak diantisipasi. Selain itu, rekayasa personil yang silih berganti di lembaga survey INES juga harus diperhatikan, mengingat personil-personil tersebut sangat mungkin hanyalah boneka yang dipergunakan sebagai alat penyampai propaganda penyesatan lewat survey.

Lebih lanjut cerita sumber yang tidak mau di sebut namanya mengatakan bahwa, Oscar diperkenalkan pd Arief lewat Sutisna, yang juga kerap ikut aktif di INES. Sutisna diketahui adalah eks pegawai di PT Percetakan Negara yang kemudian diberhentikan karena aksi demonstrasi. Tuturnya