Boni Hargens Apresiasi Kinerja BIN, Polri dan TNI

Boni Hargens Apresiasi Kinerja BIN, Polri dan TNI

NusantaraTimes.com – Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (lPI) Boni Hargens menilai bangsa Indonesia telah banyak polemik yang dihadapi, persoalan sosial yang melanda bahkan nyaris mengancam stabilitas nasional yang pasti akan semakin sulit dikendalikan.

Polemik tersebut adalah bersinggungan dengan identitas masing-masing bangsa yanki Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

“Dikotomi yang kejam atas dasar SARA tidak hanya mengganggu jalannya pemerintahan, tetapi juga mengancam masa depan keindonesiaan kita yang sudah dibangun para Pendiri Republik dengan darah dan keringat,” kata Boni Hargens dalam siaran persnya, Senin (11/6/2018).

Tidak hanya persoalan SARA saja, Boni bahkan melihat persoalan fundamental negara Indonesia sendiri juga terganggu, yakni munculnya ideologi transnasional yang mencoba menggeser Pancasila sebagai paham atau ideologi bangsa dan NKRI. Ideologi tersebut adalah Khilafah yang “dinyanyikan” oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

“Pancasila, sebagai fondasi yang merekatkan keberagaman dan falsafah yang menyatukan masa lalu dan masa depan kita sebagai negara-bangsa, diganggu oleh kehadiran dan serangan ideologi dan kelompok radikal yang ingin menerapkan NKRI Syariah,” terangnya.

Dan terakhir adalah Proxy war dengan serangan demi serangan ujaran kebencian dan fitnah di ranah dunia maya. Serangan tersebut semakin keras sampai ada yang berdampak langsung di dunia nyata (offline).

“Namun, alhamdulilah, sampai hari ini, dan sampai kapanpun, bangsa ini masih dan akan tetap kuat,” lanjut Boni.

Semua kondisi buruk yang melanda bangsa dan negara Indonesia namun tetap bisa terurai menurut Boni adalah berada di dalam diri masyarakat Indonesianya yang terkenal baik. Karakter tersebut dinilainya menjadi modal utama mengapa bangsa Indonesia masih kuat tidak mudah terpecah belah.

“Masyarakat kita adalah kekuatan yang tak terkalahkan oleh permainan kotor para pecundang politik. Masyarakat kita adalah modal terbesar yang tak bisa digadai oleh dan untuk kepentingan kekuasaan yang temporer,” kata Boni.

Namun demikian, Boni juga memgapresiasi kinerja aparat keamanan yang dimiliki Indonesia, yakni Badan Intelijen Negara (BIN), Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Menurut Boni, seluruh kondusifitas yang terjadi di Indonesia di tengah-tengah suasana konflik tidak lepas dari peran aktif ketiga institusi tersebut.

“Untuk itu, dan pada kesempatan ini, kita perlu mengapresiasi setinggi-tingginya kerja keras Badan Intelijen Negara (BIN), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) yang telah dan selalu komit menjaga keamanan masyarakat, bangsa dan negara dalam segala keadaan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Boni Hargens juga mengajak seluruh masyarakat untuk memaknai bulan suci Ramadhan sebagai momentum mengembalikan kekokohan persatuan dan kesatuan antar bangsa. Baginya, perpecahan bangsa karena kepentingan politik elektoral semata akan sangat merugikan bagi Indonesia sendiri.

“Pesan moral dari bulan suci Ramadhan tidak hanya saling memaafkan di antara kita, tetapi bagaimana kita dan seluruh kekuatan nasional juga mau memaafkan kelompok politik yang mempermainkan SARA sebagai modal dan menjadikan kekacauan sebagai momentum untuk meraih kekuasaan. Mereka pun bagian dari kita sebagai keluarga besar NKRI,” ujar Boni Hargens.

“Substansinya jelas, Indonesia tidak dibangun untuk periode pemilu 5 tahun, tetapi untuk selama-lamanya. Maka, baiklah komitmen jiwa dan raga kita arahkan dan kerahkan untuk keberlangsungan Indonesia untuk selama-lamanya,” imbuhnya.