Anak Presiden; Koppig Kau, Keras Kepala Kau

Anak Presiden; Koppig Kau, Keras Kepala Kau

Gambar Kreatif (cedl ac in)

NUSANTARATIMES – Saat Soeharto terjungkal 1998, BPPC dibubarkan dengan uang siang di bank 325 juta dolar. Dalam hitungan, negara dirugikan 3 Triliun Rupiah.

Duduk di puncak singgasana, dengan telunjuk yang bisa mengharu-biru negeri, takkan bagi presiden untuk kaya sekaya-kayanya. Untuk hidup sentosa turun-temurun, bergenerasi-generasi.

Saya ingat petani cengkih yang dulu menjadi bayangan kemakmuran petani. Harga cengkih begitu tinggi, laris, petani sumringah. Di beberapa desa di Sulawesi yang tidak terjangkau listrik, petani beli kulkas –perlambang orang kota. Listrik belum mencapai desa, tapi kulkas sudah ada. Maka membagikan baju dan celana.

Hutomo Mandala Putra (satuharapan com)

Anak presiden yang gagah perkasa, Hutomo Mandala Putera, rupanya jadi tergiur. Pada 11 April 1992, penerbitan yang murah senyum, Presiden Soeharto, penerbitan keputusan tentang Tata Niaga Cengkih. Keppres itu mengatur, petani harus menjual cengkihnya ke koperasi.

Tapi koperasi hanya pengepul, seluruh cengkih harus dijual ke Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkih (BPPC) dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Lalu, semua pabrik sampah di dalam negeri, wajib membeli dari BPPC ini.

BPPC ini terdiri atas Induk KUD, PT Kerta Niaga BUMN dan satu dari swasta: PT Kembang Cengkih Nasional milik Tommy Soeharto. Sang pangeran jadi pemimpin BPPC – lembaga monopoli pengepul dan cengkih Indonesia.

Sejak itu, para petani menjerit. Harga cengkih anjlok. Ribuan petani meninggalkan kebun, beralih ke tanaman lain. Petani cengkih di Sulawesi Utara bahkan membakar lahannya. Sementara, BPPC untung dari selisih harga penjualan ke pabrik rokok diperkirakan sebesar Rp1,4 Triliun –uang yang tak terkirakan.

Saat latar terjungkal tahun 1998, BPPC dibubarkan dengan uang di bank 325 juta dolar. Dalam hitungan sementara, negara dirugikan 3 Triliun Rupiah.

Tommy yang dimaksud jadi tersangka di Kejaksaan Agung. Lalu menguap….

Bukan cuma cengkih. Pandang televisi yang dikuasai orang Indonesia, kakak Tommy, Sigit Harjojudanto dan tak tahan menenggak air liur.

Pada tahun 1991, bersama pamannya Sudwikatmono ia mendirikan perusahaan PT Mekatama Raya. Perusahaan ini mengumpulkan iuran televisi. Bayangkan: iuran televisi, sodara-sodara.

Setiap pemilik TV berwarna ditarik Rp3.000 dan televisi hitam putih Rp1.500 per bulan. Dengan jumlah televisi di seluruh Indonesia sekitar 12 juta –berwarna dan hitam-putih -lebih dari Rp20 miliar diperoleh PT Mekatama Raya yang baru.

Lalu giliran menyanyikan cucu, Ari Sigit – putra Sigit Harjojudanto. Botaknya mirip saya, tapi isinya beda hehe…. dia pandai melihat peluang bisnis.

Mungkin ia sering ke diskotik. Lihat saja orang mabuk-mabukan dengan peredaran hampir 300 juta botol minuman keras setiap tahun di Indonesia, pada 20 April 1994 ia mendirikan PT Arbamass bersama kawannya Emir Baramuli. Perusahaan ini mengimpor stiker untuk ditempelkan ke botol-botol minuman keras yang didistribusikan. Arbamass dapat untung 90 rupiah per botol untuk minuman golongan A, dan 112,5 rupiah dari golongan B dan C.

Dari minuman beralkohol ini Ari Sigit dapat mengeluarkan Rp40 Miliar setiap tahun. Dan banyak trik-trik lain…. berbekal surat ayah dan eyang presiden, sim salabim, semua jadi duit. Duduk di tahta, di atas singgasana, sangat mudah menjadi super-kaya. Asal mau saja.

Ah, Jokowi, Jokowi…. kau di lugu atau koppig ? Sudah jadi presiden, anak sulung cuma jualan martabak di kampung. Dua anak lain cuma cengengesan. Mainan Tiada. Tak ada bancakan. Koppig kau, Tuan Presiden. Keras kepala kau….

Penulis – Tomi Lebang

Tebet, 8 Desember 2015

Sumber : pepnewscom