Implikasi Sportivitas Piala Dunia Terhadap Pilkada Serentak

Implikasi Sportivitas Piala Dunia Terhadap Pilkada Serentak

Gambar Kreatif (cedl ac in)

NUSANTARATIMES – Perhelatan piala dunia bukan semata milik penyelenggara (FIFA) atau kegembiraan bagi negara-negara yang ikut bertanding, tetapi dinikmati oleh semua masyarakat di planet ini. Euforia piala dunia dengan segala prosesnya, tidak hanya menarik untuk ditonton, tapi juga diamati, dibahas, dan menjadi diskursus antar pendukungnya, mulai dari debat kusir hingga dialektika objektif disertai landasan argumentatif.

Piala dunia tidak semata meninggalkan kesan estetik dari keindahan pola dan strategi permainan, performa pemain yang gemilang, hingga ekspektasi atas sebuah kemenangan. Dibalik itu, ada nilai yang ingin disampaikan, yakni independensi wasit, sportivitas pemain (person), tim (negara), hingga mentalitas para fans dan pendukung, bergembira saat menang dan legowo menerima kekalahan.

Euforia piala dunia terasa sampai di negeri ini, arak-arakan para fans saat kemenangan timnya, sampai diselenggarakan acara nonton bareng antar para tim yang bertanding. Alangkah baik, jika euforia tersebut berimplikasi juga terhadap penyelenggaraan pilkada (serentak) tahun ini.

Sportivitas dalam bertanding mesti terjadi juga dalam penyelenggaraan pilkada, walaupun pilkada bukan dimaknai sebagai sebuah pertandingan, tetapi nilai objektivitas, kejujuran, dan sportivitas mesti terpelihara saat pilkada berlangsung.

Independensi wasit menjadi pertaruhan penting dalam sebuah pertandingan, begitupun independensi penyelenggara pilkada (KPU – BAWASLU) mesti terjaga dengan baik, netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) serta TNI – POLRI juga harus tetap terjaga, demi menuju pilkada yang sehat dan demokratis.

Mentalitas peserta pilkada menjadi taruhan penting dalam menjaga marwah demokrasi, sportivitas peserta pilkada mestinya bukan sekedar ucapan dan janji (saat kampanye), tapi adalah komitmen untuk menjaga kedamaian dan kesejukan proses politik yang berlangsung.

Mentalitas peserta pilkada begitu penting, karena menjadi contoh riil bagaimana para pendukungnya bertindak, pilkada yang aman selalu berawal dari mentalitas peserta pilkada yang baik dan sportif, independensi penyelenggara pilkada yg adil dan terbuka, serta partisipasi publik yang aktif dan massif, tidak hanya dalam hal penggunaan hak pilih, tapi juga dalam proses pengawasan pilkada agar sesuai aturan.

Perhelatan piala dunia tahun ini cukup fair dan terbuka, karena terbantu dengan penggunaan Video Assistant Referee (VAR). Keputusan wasit lebih tepat karena bantuan VAR. Namun pada pilkada, penggunaan teknologi hanya pada aplikasi (tools) yang membantu prosesi pilkada, mulai dari tahapan plan, hingga pelaksanaan (perhitungan dan rekapitulasi).

Penggunan KTP elektronik (E-KTP) atau surat keterangan yang diterbitkan instansi berwenang sebagai syarat menggunakan hak pilih dinilai cukup tepat, karena menutup ruang penggunaan hak pilih lebih dari sekali, selain juga sebagai identifikasi riil masyarakan sebagai pemilih.

Euforia piala dunia dengan segala kesan yang bersemai di dalamnya, mesti terkoneksi secara utuh pada proses pilkada nanti.Mulai dari independensi wasit (penyelenggara pilkada), mentalitas tim (peserta pilkada), sportivitas para fans (pendukung calkada), keindahan permainan (prosesi pilkada secara elegan, edukatif, dan normatif), serta partisipasi fans dalam memberikan dukungan melalui yel-yel (partisipasi pendukung dalam menggunakan hak pilih turut meningkatkan angka partisipasi pemilih secara keseluruhan).

Jika ini terjadi, maka keberlangsungan piala dunia adalah implikatif terhadap penyelenggaraan pilkada (serentak) tahun ini.

Semoga semua ekspektasi terhadap perhelatan piala dunia, sesuai dengan apa yang ditampilkan dan ditunjukan. Begitupun dengan harapan terhadap perbaikan kualitas demokrasi di negeri ini, dapat tercapai melalui penyelenggaraan pilkada yang baik, sehat, dan tertanggung jawab.

Penulis : Wawan Oat, Direktur Center For Economics and Social Studies (CentrEast)