#2019StopPilih Demokrat

#2019StopPilih Demokrat

NUSANTARATIMES – Bukan menjadi rahasia umum lagi jika Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono selalu menjadi buah bibir publik tanah air terkait lontaran kritikannya yang diarahkan ke pemerintahan Jokowi.

Belakangan ini terjadi adalah soal kritik netralitas TNI-Polri dan BIN terkait Pilkada Serentak 2018 yang langsung menjadi heboh jagat maya.

Namun, saat puluhan massa yang tergabung Aliansi Pemuda Jakarta Menggugat & Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi menggelar aksi damainya menyambangi DPP Demokrat untuk meminta SBY membuka data ketidaknetralan TNI-Polri dan BIN justru mendapatkan perlakuan yang mengecewakan.

“Perlakuan anak buah SBY kader-kader Demokrat sangat mengecewakan sekali. Kita sebagai pemuda dan penyambung aspirasi rakyat hanya ingin minta Bapak SBY membongkar data ketidaknetralan TNI-Polri dan BIN malah disambut dengan pengusiran paksa,” tegas Dharma selaku koordinator aksi saat jumpa pers di UP2Yu Resto and Cafe, Cikini Menteng Jakpus, Sabtu (30/6/2018).

Lebih lanjut, Dharma memastikan pihaknya sudah mengantongi izin aksi saat menggelar aksi damainya di DPP Demokrat. Dia pun menyayangkan respon negatif anak buah SBY yang langsung bersikap frontal meminta massa aksi membubarkan diri secara paksa.

“Bukti rekaman kami ada. Kita baru orasi beberap menit langsung diminta bubar. Ini sangat berbanding terbalik dengan sikap SBY dengan slogan politik santun,” tuturnya.

“Kami sangat menyayangkan sekali, Partai besar dan figur fenomenal sekaliber SBY yang selalu berbicara kemedia agar pemerintah tak boleh anti terhadap kritik, tapi malah saat kita cuma minta data soal ketidaknetralan malah diusir,” jelasnya.

Dikatakan Dharma, didalam UUD 45 sangat jelas disebutkan bahwa sah menyampaikan aspirasi dimuka umum apalagi pihaknya mengklaim mengantongi izin aksi.

“Aksi adalah hak rakyat dan mengkritik para petinggi-petinggi parpol juga sah. Rakyat jangan dihalang-halangi. Apakah SBY sekarang menjadi tokoh anti kritik dan semakin alergi menerima suara rakyat,” bebernya.

Dharma pun berpesan kepada kader-kader Demokrat maupun SBY untuk bersikap bijak menerima aspirasi bawah khususnya rakyat demi menyikapi fenomena yang terjadi.

“Ini frontal sekali. Harusnya jangan cepat marah, di video jelas sekali mereka membabi buta melontarkan kemarahannya. Pakek mukul-mukul mobil perangkat aksi kami. Apakah SBY mengajarkan kepada anak buahnya seperti itu. Harusnya sampaikan dengan bijak, santun bukan langsung marah-marah dan minta bubar-bubar. Malah menuding kita massa bayaran, sungguh terlalu,” sesal mereka.

Lebih jauh, Dharma meminta SBY berhati-hati dengan sikap bawahannya terhadap rakyat. Harusnya jika mereka mendekati Pilpres 2019 bisa bersikap tidak arogan melainkan haruslah melindungi dan mengayomi.

“Jangan arogan lah menanggapi aspirasi kami. Ini sebagai bentuk kritik rakyat jangan dibungkam aspirasi kami. Ingat kedaulatan berada ditangan rakyat, jangan sok berkuasa lagi,” tambah dia.

“Jika masih tetap tidak merespon aspirasi kami, maka jangan salahkan rakyat teriak #2019StopPilihDemokrat,” pungkasnya.