Aksi 67 Dinilai Terlalu Politis dan Menodai Citra Ulama Indonesia

Aksi 67 Dinilai Terlalu Politis dan Menodai Citra Ulama Indonesia

NUSANTARATIMES – Ustadz Dullah menilai aksi yang di inisiasi Alumni PA 212 dengan tokoh utama yang dijual adalah habib riziek terlalu politis.

Dullah juga menekankan bahwa, gerakan kelompok yang mengklaim sebagai barisan para ulama tersebut terlalu kental permainan politiknya, dimana ada unsur yang sudah terlalu kentara gerakan politik praktisnya untuk melawan pemerintahan saat ini.

“Pasti publik Indonesia bisa membacanya. Gak perlu lagi juga pengerahan massa,” tuturnya.

Pun jika memang dirasa kasus-kasus yang mereka gelontorkan seperti pengusutan kasus e-KTP sebaiknya dilakukan protes secara baik, bukan dengan mengintervensi hukum karena ia yakin Kepolisian tetap akan memproses siapapun yang melakukan pelanggaran hukum.

“Tinggal sampaikan mekanisme yang ada. Hukum tak perlu di intervensi,” ujarnya.

Kemudian Ustadz Dullah juga mengindikasi aksi 67 tersebut hanya bentuk ekspresi kekecewaan mereka karena para jagoan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Gerindra kalah dia dua wilayah strategis di Indonesia, yakni Jawa Barat dan Jawa Tengah.

“Mereka main e-KTP karena jagoannya di Jateng kalah, kemudian di Jawa Barat juga kalah makanya dia juga angkat isu soal Plt Gubernur Jawa Barat,” tambahnya.

Terakhir, Ustadz Dullah pun menegaskan bahwa PA212 yang dikomandoi oleh Habib Muhammad Rizieq bin Shihab dari Arab Saudi tersebut jangan sampai malah menodai citra ulama Indonesia sendiri di mata ulama internasional, demi menyenangkan libido politik mereka masing-masing.

“Martabat dan citra ulama Indonesia jangan di korbankan dimata ulama dunia sehingga dicap sebagai ulama demo,” tutupnya.