Sebuah Perjalanan Menjadi Panel Barus

Sebuah Perjalanan Menjadi Panel Barus

NUSANTARATIMES – Ini merupakan artikel pertama saya mengenai kisah seseorang yang kebetulan dia adalah teman saya ketika SD dan SMP. Sebenarnya artikel ini sudah saya siapkan sebelum Lebaran tahun ini, namun karena sesuatu hal, artikel ini baru sempat saya publikasikan

Artikel ini dibuat sendiri oleh Panel Barus dan saya edit seperlunya serta saya publikasikan atas ijin dari Panel Barus.

Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah perjalanan hidup Panel Barus. Semoga Anda pun bisa mengambil hikmah dari artikel ini.

“Saya lahir dari keluarga yang sederhana pada 1 Juli 1979.

Almarhum Ayah saya, Pasti Barus, bekerja sebagai sopir taksi, sedangkan Ibu saya, Vera Perangin-angin sehari-hari membuat kue nastar dan menjual gado-gado.

Kerja keras mereka telah membesarkan saya dan tiga orang kakak perempuan saya.

Tempat Saya Tumbuh Hingga Remaja

Daerah Kebon Pala, Kecamatan Makasar dan kemudian berpindah ke Kalisari, Pasar Rebo Jakarta Timur adalah dua wilayah yang saya kenang sebagai tempat di mana saya tumbuh dari kecil hingga remaja.

Sekolah, bermain, dan mengaji adalah rutinitas sehari-hari di masa kecil.

Selepas maghrib saya selalu bergegas mendatangi rumah kontrakan Ustadz Anis yang tak jauh dari rumah kontrakan kami di Kebon Pala untuk belajar mengaji bersama anak-anak lainnya.

Menghafal surat pendek kewajiban yang harus dilakukan.

Sebuah pelajaran yang berarti bagi saya. Mandi hujan dan bermain petak umpet adalah permainan favorit saat itu, saat harus bersembunyi sering kali kami bersembunyi ditempat yang tak masuk akal jauhnya, sampe ke kebon kangkung yang berjarak bisa 700 meter dari lokasi permainan.

Terkadang permainan bubar hanya karena kami tak kembali lagi kelokasi permainan.

Pada masa remaja, atau kisaran usia 15 tahun, saya sudah harus bekerja membantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan biaya sekolah.

Mulai dari menjadi tukang ojek di Jalan Belly Pekayon dan Komplek Brigif Kalisari, hingga membantu Ibu berjualan gado-gado dan menitipkan nastar ke warung-warung.

Sementara pada saat libur sekolah datang, biasa saya berjualan baju di depan pabrik di sepanjang Jalan Raya Bogor.

Situasi tersebut mungkin tak dialami banyak anak-anak pada masa itu, tapi juga bukanlah sebuah beban bagi saya.

Situasi memang mendorong saya dan kakak-kakak saya untuk membantu orang tua agar kami terus dapat melanjutkan sekolah.

Di balik ‘kewajiban’ membantu orang tua, saya masih menyempatkan diri untuk melakukan hobi olahraga bulu tangkis dan sempat tergabung dalam klub bulu tangkis Jaya Raya DKI Jakarta.

Saya juga hobi bermain tenis meja dan sempat menjadi juara di turnamen tingkat sekolah.

Bukan prestasi yang besar tentunya, namun aktivitas tersebut tanpa disadari telah membentuk disiplin bagi saya di kemudian hari.

Masa-Masa Menjadi Mahasiswa

Selepas SMA, pada 1997, saya memilih melanjutkan pendidikan tinggi di Medan, Sumatra Utara.

Tahun-tahun di mana krisis ekonomi tengah terjadi di Indonesia, dan gelombang aksi mahasiswa terjadi di berbagai daerah, tak terkecuali di Medan.

Kesadaran bahwa ada persoalan besar di Indonesia, ketimpangan kesejahteraan, ketidakadilan, tak adanya kebebasan berekspresi, represifitas dan lain sebagainya mendorong saya untuk ikut serta dalam memimpin berbagai aksi-aksi mahasiswa pada saat itu.

Bersama mahasiswa di seluruh Indonesia, tugas sejarah telah kami torehkan untuk negeri ini.

Era keterbukaan dan demokrasi menjadi fase berikutnya yang kami lahirkan dari gagasan-gagasan kritis yang disertai dengan aksi-aksi di jalanan dengan dukungan dari masyarakat luas.

Dua tahun berselang saya kembali ke Jakarta, melanjutkan studi di Universitas Bung Karno dan STIE Nusantara (Institut Bisnis Nusantara).

Rapor Merah Privatisasi Air di Jakarta adalah karya ilmiah pertama (skripsi) yang mengantarkan saya sebagai Sarjana Ekonomi pada 2005.

Sebuah kebanggaan yang saya dedikasikan bagi kedua orang tua saya.

Kerja Keras Pasti Membuahkan Hasil Setimpal

Cerita dan perjuangan hidup pada masa kecil hingga dewasa telah memberikan banyak pelajaran berarti bagi saya dalam menjalani kehidupan.

Memori masa remaja yang harus membantu orang tua masih terbayang di kepala saya setelah menjadi sarjana.

Semua itu tanpa disadari telah membentuk karakter saya dan mendorong saya menjadi pribadi yang bekerja keras jika ingin menghasilkan sesuatu.

Hingga akhirnya memulai membangun bisnis percetakan pada 2007 dengan nama PT. Serpico. Sebuah nama yang saya ambil dari merk kue nastar milik Ibu saya.

Bisnis yang sampai hari ini saya bangun dan jalani untuk mengubah kehidupan saya, baik bagi saya dan keluarga, maupun bagi mereka yang bersama dengan saya membangun bisnis ini, dan semoga kedepan saya lebih bisa berbuat dan memberikan manfaat yg lebih besar lagi bagi orang banyak.

Pendapat Penulis mengenai Panel Barus

Cerita diatas merupakan cerita singkat tentang teman saya Panel Barus.

Kami sempat sekolah di SD dan SMP yang sama di daerah Pekayon.

Bagi saya dan mungkin teman-teman Panel yang lain, Panel merupakan sosok yang ramah dan selalu menghibur orang-orang di sekitarnya.

Dengan kesuksesan yang diraih Panel, tidak membuat dia besar kepala.

Sampai saat ini, Panel tetap menjadi sosok yang menghibur dan kepribadian yang kuat serta sangat pantas menjadi teladan buat saya khususnya, kesulitan hidup yang pernah saya jalani tidak sekeras jalan hidup Panel.

Sosok low profile Panel sangat terasa bagi saya.

Panel masih tetap Panel yang dulu, mau bergaul dan berbagi dengan siapapun.

Saran saya buat Panel. Perjuangan belum berakhir. Waktu masih sangat panjang untuk terus meraih kesuksesan.

Untuk pembaca ketahui, Panel saat ini merupakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Jakarta Timur.

Niat mengabdikan diri untuk mengubah masyarakat khususnya Jakarta Timur menjadi lebih baik sungguh mulia.

Selama Panel mampu menjaga amanah dari masyarakat, saya akan terus mendukung teman saya Panel Barus dibarisan terdepan untuk mewujudkan cita-citanya mengabdikan diri untuk kemajuan masyarakat Jakarta Timur.

Sukses terus Sahabatku Panel Barus….”