Umat Islam Indonesia, Jangan Terpengaruh Oleh Kelompok Yang Berkedok Majelis

Umat Islam Indonesia, Jangan Terpengaruh Oleh Kelompok Yang Berkedok Majelis

PIKIRAN RAKYAT – Indonesia adalah negara yang beradap dan persatuannya nya kuat dan itu di ajarkan di Al – Qur’an.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. ( QS Ash Shaff (61) : 4)”.

Kalau kita berbicara “Merapatkan Barisan Ummat” tentu disini kita meyakininya sebagai sebuah kewajiban bagi kita ummat Islam. Terlintas oleh kita dengan ummat yang tercerai berai / terserak – serak yang tidak berada didalam satu barisan yang teratur.

Padahal dalam banyak ayat didalam Al Qur’an Allah memerintahkan kepada ummat Islam agar berada didalam satu barisan yang tersusun kokoh. Yang dikatakan rapat maka harus dekat antara yang satu dengan yang lainya, dan untuk saling mendekat harus ada yang mengikat yaitu Ukhuwah Islamiyah. Allah berfirman :

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS Al Hujarat (49) : 10).

Disini kita yakini bahwa untuk rapatnya sebuah barisan ummat Islam terutama di nusantara atau indonesia, maka harus adanya rasa persaudaraan yang tinggi sehingga ukhuwah ummat ini betul – betul kuat tidak tergoyahkan.

Walaupun wujudnya rapat namun rasa persaudaraan yang rendah dan ukhuwah yang rapuh maka belum dikatakan “Rapatnya Barisan Ummat”.

Untuk memupuk rasa persaudaraan yang tinggi dan ukhuwah yang kuat maka ada hal – hal yang harus dilakukan sehingga shaff ummat ini tidak hanya rapat secara wujud / lahiriah saja namun hati – hati kita secara batiniah juga rapat. Ada simpul yang mengikat hati – hati kita ini yaitu “Tali Allah” (QS Ali Imran 3 : 103).

Nabi SAW bersabda “Muslim yang satu dengan yang lain bagaikan satu tubuh, jika anggota tubuh yang satu sakit maka yang lain ikut merasakan sakit “. Dan hal ini akan terasa dan terwujud didalam Al Jama’ah, dengan satu wadah maka kita akan sering bertemu didalam beramal, saling silaturahim, saling nasehat menasehati, saling ta’awun sehingga akan timbul rasa persaudaraan yang tinggi yang diikat oleh Islam.

Setelah rapatnya barisan ummat maka harus ada upaya untuk mempertahankan, dan hal terpenting didalam mempertahankan “Rapatnya barisan ummat” ini yaitu dengan kedisiplinan yang tinggi. Dan hal ini terlihat pada kedisiplinan “Sam’an wa Tho’atan” kepada pemimpin dari shaff / barisan tersebut, sehingga terwujud jamaah yang solid.

Miniatur “Rapatnya barisan ummat” ini bisa kita lihat didalam sholat berjamaah. Barisan / shaff sholat harus rapat tidak boleh ada renggang / celah, karena didalam hadist Nabi Saw shaff yang renggang akan diisi oleh setan. Dan makmum harus disiplin dalam mengikuti setiap gerakan imam.

Setiap ibadah bernilai dihadapan Allah maka harus dilakukan dengan rapi dan disiplin yang tinggi. Apabila didalam barisan tidak ada kedisplinan didalam ketaatan maka barisan ini belum termaknai bahwa ummat itu sudah berada didalam shaff yang rapat.

Kemudian ada kewajiban – kewajiban individu didalam mempertahankan rapatnya shaff ummat ini yaitu dengan pengorbanan.

Pengorbanan melalui kedisiplinan yang tinggi tidak akan terwujud apabila tidak dibarengi dengan keikhlasan yang disebabkan rasa persaudaraan yang tinggi dan ukhuwah yang kuat.

Karena berkorban itu butuh keikhlasan, dan rasa ikhlas akan terwujud apabila ada rasa persaudaraan yang tinggi dan ukhuwah yang kuat.

Sehingga pengorbanan yang dilakukan tidak sekedarnya saja yang menyebabkan nilai ibadahnya tidak maksimal dihadapan Allah SWT. Untuk membangun bangsa ini kedepan lebih baik.

Maka didalam kehidupan berjamaah untuk merapatkan shaff ummat perlu ada pengorbanan yang tinggi dan keikhlasan, karena didalam berjamaah tidak boleh mengikuti kehendak pribadi – pribadi, untuk itulah perlu ada kedisiplinan yang tinggi dalam “taat” kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri (QS An Nisa : 59 ).

Sehingga dengan sikap – sikap diatas maka terwujudlah cita – cita izul Islam wal Muslimin di bangsa Indonesia tercinta.

Sesungguhnya orang – orang yang mengaku beriman seharusnya sudah berada didalam barisan yang teratur yaitu didalam Al Jama’ah, tidak boleh “tercecer / terserak” didalam perpecahan yang merupakan dosa besar. Allah berfirman :

“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta Dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka “.(QS Ar Rum (30) : 31-32).

Penulis : BUNG REY (SEKJEN “V” Indonesia)

Catatan : Indonesia adalah negara yang berpenduduk Islam terbesar, maka umat islam indonesia harus bersatu, jangan tercerai berai, jangan suka di pecah bela oleh kelompok tertentu yang berkedok majelis dan jualan ayat.