Bedah Plagiat Merek

Bedah Plagiat Merek

NUSANTARATIMES — Sebagai kota mode, Bandung memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan konsumen pemburu barang fashion di Indonesia.
Tingginya daya kreativitas masyarakat Bandung mendapat pengakuan, bukan hanya dari masyarakat Indonesia, tetapi juga pengakuan dari konsumen manca negara.

Terbukti banyaknya merek industri garmen dan sepatu yang diproduksi di Bandung yang dianggap sebagai merek asing seperti Tomkins, Edward Forrer, Amble Footwear, Txture, Brodo, Somearethieves, Peter Says Denim (PSD), The Executive dan lainnya.

Sayangnya tingkat kreativitas tersebut dicemari oleh beberapa oknum produsen yang ingin mengambil keuntungan secara cepat dengan menjadi plagiat yang memalsukan merek asing yang ternama. Seperti yang terjadi dengan pemalsuan celana taktikal bermerk Blackhawk dan Under Armour yang diproduksi oleh sebuah industri rumahan yang berlokasi di Kabupaten Bandung.
Adalah toko DN_17 ARMY SHOP, yang menjual produk pakaian dan atribut Blackhawk dan Under Armour palsu di kawasan Taman Kopo Indah III, Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, yang juga menjadi suplier pakaian dan atribut taktikal merek palsu tersebut ke beberapa reseler di Indonesia.

Pemalsuan dan penjualan merek palsu tersebut dilakukan secara terang-terangan tanpa ada perasaan takut bahwa perbuatan yang dilakukan adalah sebuah tindak pidana.

Ketika dikonfirmasi ke aparat desa terkait, Dede Zubaedah, Sekretaris Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, di ruang kerjanya mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui adanya home industri konveksi yang memproduksi merek Blackhawk dan Under Armour palsu di daerahnya, Selasa (12/12/17).

“Home industri di kawasan Desa Mekarrahayu banyak, namun didominasi oleh home industri produksi makanan dan mobiler. Ada juga konveksi seperti topi dan celana dalam namun sejak pemekaran sudah masuk wilayah Desa Rahayu,” terang Dede kepada awak media.

Untuk diketahui, berdasarkan studi terakhir yang dilakukan Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyatakan Tingkat pemalsuan barang di Indonesia berada di angka yang mengkhawatirkan.
Hasil studi menempatkan pemalsuan pada produk tinta printer (49,4 persen), pakaian (38,9 persen), barang dari kulit (37,2 persen), dan peranti lunak (33,5 persen).

Situasi pemalsuan tersebut menimbulkan kerugian terhadap ekonomi nasional hingga Rp 65,1 triliun serta hilangnya pendapatan dari pajak tidak langsung atas penjualan peranti lunak asli hingga Rp 424 miliar.

Hasil studi juga mengatakan bahwa lebih dari 64 persen konsumen merasa tidak mungkin diadili sekalipun mereka menggunakan barang palsu, sementara lebih dari 32 persen penjual mengaku sering terkena razia, tetapi tidak terkena sanksi hukum.(YSD)

BERBAGI
Artikel sebelumyaJaga Harga Sembako
Artikel berikutnyaHMI Bicara Reklamasi