Tragedi Banyuwangi; Pembantaian Pendeta dan Ulama 2018

Tragedi Banyuwangi; Pembantaian Pendeta dan Ulama 2018

NUSANTARA TIMES – Fenomena sosial tahun 1997-1998 tentang operasi rahasia pembunuhan sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama di daerah basis utamanya di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ada yang mengkaitkannya sebagai operasi intelijen khusus, pembalasan dendam eks konflik NU-PKI 1965, pembunuh bayarang para cukong kayu dan sampai pada pencegahan antusiasme berlebih terhadap lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ngeri mengingat kejadian itu di banyuwangi tiap malam mencekam. Pembunuhan pertama di desa kami. masalahnya ada seorang warga sakit keras , setelah di obatkan ke dukun , si dukun bilang kalau si A yang menyantetnya. sehingga keluarga si sakit mempercayai si dukun dan ahirnya memprovokatori warga, warga yang terhasut ahirnya main hakim sendiri, si A di bunuh pagi hari.

Mereka di bantai selang beberapa bulan, ada lagi sang istri tetangga berpura – pura hilang kalungnya dan mendatangi si dukun tersebut..wal hasil dukun menuduh tetangga nya padahal kalung istri nya tidak hilang begitulah saudaraku kejamnya fitnah.

Tujuh belas tahun silam, Lembaga Pemasyarakatan di Banyuwangi ini menjadi tempat hukuman bagi terpidana kasus pembantaian orang-orang yang dituduh dukun santet. Satu di antara 148 terpidana pelaku pembunuhan yang diseret ke pengadilan dan sempat dipenjara di sini adalah Mulyono. Mulyono, kini berumur 48 tahun, adalah satu di antara tujuh orang yang diseret ke pengadilan terkait dengan pembantaian Fadilah, ayah Sucipto. Mulyono masih satu kelurahan dengan korban. Ia diganjar tiga tahun penjara karena didakwa menghabisi tiga orang yang diduga dukun santet, termasuk Fadilah.

Padahal saat peristiwa, Mulyono hanya ikut di barisan belakang. Dia diajak oleh salah satu preman di daerahnya yang memimpin pembantaian terhadap tiga orang. Saat pemeriksaan di Polres, kata Mulyono, dia berusaha membantah tuduhan polisi. Mulyono sudah menghapus masa lalunya itu. Dia sendiri memilih bekerja ke Bali dan sepekan sekali pulang ke Banyuwangi. Oleh karena itu dia tak ingin tragedi dukun santet itu diungkit kembali oleh pemerintah.

Tragedi pembantaian orang-orang yang dituduh sebagai dukun santet, meletus pada September 1998, dengan korban terbanyak di Banyuwangi, Jawa Timur; 119 orang tewas dengan cara mengenaskan. Tujuh belas tahun telah berlalu. Namun tragedi ini masih menyisakan misteri. Siapa sebenarnya dalang di balik pembantaian sadis itu? Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM sedang menyelidiki kasus ini.

Keluarga korban menyambut baik langkah yang ditempuh Komnas HAM. Selama ini mereka menunggu keadilan atas kematian keluarga mereka. Salah satu keluarga korban adalah Untung Hadi. Ayahnya, Hasin, bukanlah dukun santet, tetapi seorang petani dan takmir masjid. Untung Hadi mengisahkan kematian ayahnya pada suatu malam 19 September 1998. Sumber : Youtube – Tempo Video

Tragedi di tahun 2018 “Pelaku membawa samuari dan membabi buta menyerang jamaah gereja. Korban kurang lebih ada 7 orang. Seorang pemuda mengamuk dan menghunuskan pedang hingga melukai seorang pastor dan tiga orang umat yang tengah melakukan misa di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2/2018). Kapolres Sleman telah berhasil mengidentifikasi pelaku yang bernama Sulijono asal Banyuwangi. Pihak kepolisian melakukan pendalaman terkait motif penyerangan pelaku. Sumber : VisualTV Live

Rentetan peristiwa yang menyerang para pemuka agama harus dipandang dari perspektif yang lebih luas dengan tidak menyederhanakannya sebagai peristiwa kriminal biasa agar umat beragama terus waspada menyikapi fenomena tidak biasa ini.Siapa oknum dibalik penyerangan ulama..!!!