Politik Dinasti Rentan Gelincirkan Ichsan Yasin Limpo dan Andi Mudzakar

Politik Dinasti Rentan Gelincirkan Ichsan Yasin Limpo dan Andi Mudzakar

Karyono Wibowo
Direktur Indo Survey and Strategy (ISS), Karyono Wibowo.

Nusantaratimes.com – Direktur strategi dari Indo Survey and Strategy (ISS), Karyono Wibowo mengingatkan kepada pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Ichsan Yasin Limpo dan Andi Mudzakar terkait dengan kerentatan mereka dapat tergelincir dalam bursa Pilgub Sulsel 2018 ini.

Hal ini terkait dengan potensi maraknya isu politik dinasti yang melekat pada diri Ichsan Yasin Limpo yang merupakan adik kandung dari Gubernur Sulawesi Selatan saat ini, yakni Syahrul Yasin Limpo.

Dari hasil survei yang dilakukan oleh lembaganya pula, potensi pemilih tidak akan memilih calon yang masih memiliki hubungan dinasti dengan penguasa saat ini juga tinggi di Sulawesi Selatan. Dan data inilah yang menjadi warning serius bagi posisi mantan Bupati di Kabupaten Gowa itu.

“Dalam temuan survei ini terkait dengan isu dinasti politik, hanya 20.1% yang pernah mendengar politik dinasti di Sulawesi Selatan. Dari 20.1% yang pernah mendengar, 63.9% memahami makna politik dinasti. Dari 20.1% yang pernah mendengar ada 77.7% yang kurang mengnginkan atau tidak menginginkan politik dinasti berkuasa,” kata Karyono Wibowo di Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (4/3/2018).

Dan perlu diketahui, Ichsan Yasin Limpo merupakan adik kandung dari Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo. Kondisi inilah yang dikatakan Karyono sangat berpotensi mengganjal kemenangan klan keluarga Yasin Limpo ini.

“Hal ini perlu menjadi ‘warning’ bagi Ichsan Yasin Limpo yang merupakan keluarga dinasti Yasin Limpo. Ini bisa menjadi kelemahan bagi Ichsan Yasin Limpo,” ujarnya.

Sementara terakit dengan isu politik dinasti ini, Karyono juga memberikan peringatan kepada seluruh politikus yang ingin mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Kesadaran masyarakat dengan adanya politik dinasti tersebut bisa menjadi ancaman yang serius.

“Peringatan ini berlaku juga bagi kandidat dimanapun berada. Jika ada gerakan penolakan terhadap politik dinasti secara massif dan terstruktut dan sistematis yang mampu membangun kesadaran masyarakat maka gerakan tersebut akan efektif untuk menurunkan (mendowngrade) elektabilitasnya,” tuturnya.

Bagi Karyono, inilah data yang ditemukan berdasarkan survei riil yang dilakukannya. Betapapun itu, seluruh kandidat yang maju perlu memperhatikan hal ini karena menyangkut nasib suara yang bisa menentukan nasibnya di kontestasi politik demokrasi tersebut.

“Setiap calon kepala daerah harus menerima dan mau dikritik, karena posisi mereka juga bisa dilihat dari survei dan ini menyangkut suara yang akan diperoleh,” tuturnya usai menyampaikan hasil surveinya itu.

Ichsan Yasin Limpo, popularitas tinggi elektabilitas tertinggal

Sementara itu, dalam hasil survei yang disampaikan Karyono Wibowo tersebut, tingkat popularitas Ichsan Yasin Limpo terbilang tinggi. Dimana angka yang diperoleh dari survei tersebut mencapai 76,7% yang kemudian disusul oleh Aziz Kahar Mudzakar dengan perolehan 66,6%.

“Tingkat pengenalan kandidat paling tinggi adalah Ichsan Yasin Limpo (IYL) sebesar 76,7%. Menyusul di posisi kedua adalah Aziz Kahar Mudzakar (AKM) 66,6%, Posisi ketiga Nurdin Halid (NH) 61,8%, menyusul Andi Mudzakar (AM) 50,4%, Nurdin Abdullah (NA) 50,3%, Agus Arifin Numang (AAN) 50,0% Andi Sudirman Sulaeman (ASS) 20,3% dan Tanribali Lamo (TL) 18,3%,” beber Karyono.

Walaupun posisi popularitas Ichsan Yasin Limpo teratas, namun dari elektabilitas ternyata posisi Ichsan Yasin Limpo juga kurang aman. Yakni ketika dilakukan survei dengan pertanyaan spontan, ternyata posisi Ichsan Yasin Limpo berada di urutan ketiga.

“Dalam pertanyaan terbuka atau spontan, posisi elektabilitas cagub yang paling dominan ada 3 nama yaitu Nurdin Abdullah dengan 12.6%, Nurdin Halid 10.8%, Ichsan Yasin Limpo 10.5%. Agus Arifin Numang 3.5%, Sahrul Yasin Limpo 2.6% dan 57.4% menjawab rahasia/belum memutuskan pilihan/tidak tahu/tidk jawab,” terangnya.

Dan untuk diketahui, bahwa survei yang dilakukan oleh Indo Survey and Strategy tersebut menggunakan data yang diambil pada rentan waktu tanggal 19-24 Februari 2018. Survei tersebut juga menggunakan metode multi stage random sampling, dengan jumlah responden 800 orang dengan margin of error 3.5%. Wawancara dilakukan secara tatap muka langsung dengan menggunakan kuesioner, menggunakan sistem quality control yang ketat. (ibn)