Kader HMI MPO Menolak Islah HMI

Kader HMI MPO Menolak Islah HMI

1653

NUSANTARATIMES – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berhasil di pecahkan oleh oknum – oknum elit Orde Baru dan perpecahan organisasi itu bertahan sampai saat ini.

Namun ada beberapa elit alumni dan kader aktif Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mulai menghembuskan kata ISLAH atau penyatuan kembali HMI dari HMI MPO dan DIPO menjadi HMI.

Akan tetapi isu tersebut di tepis oleh salah satu kader HMI MPO yang tidak mau di sebut namanya, ia menyatakan bahwa, ISSU ISLAH mulai di tawarkan lagi elit HMI, maka saya menolak islah HMI dan meminta untuk segera membubarkan KAHMI. Ujarnya dalam pesan elektroniknya, Selasa (13/03).

Ia pun memberikan alasan bahwa, kenapa harus membubarkan KAHMI? dirinya menilai bahwa KAHMI saat ini hanya di isi oleh alumni – alumni dari HMI Dipo. KAHMI saat ini di warnai atau di isi dengan elit – elit politik. Ujarnya

Instrumen penyatuan kembali atau ISLAH HMI yang di inisiasi oleh elit HMI di Jogja bagi kami adalah persetujuan sepihak dan tidak mudah. Ujarnya lagi

Kongres tahun 2018 antara MPO dan DIPO d wilayah timur Indonesia hanya untuk pergantian kepemimpinan di kedua gerbong HMI itu bukan untuk ISLAH. Katanya

Foto Bersama Ketua Umum PB HMI Dipo dan MPO Disaat Acara Pelantikan KAHMI di Jakarta.

Maka saya kader MPO menolak dengan keras untuk ISLAH dan segera bubarkan KAHMI dan atau bentuk KAHMI HMI MPO. Tegas nya

Berikut pula sejarah singkat yang di ceritakan tentang perjalanan HMI agar sebagai gambaran sejarah bagi kader HMI dan sahabat – sahabat nusantaratimes.com.

Sejarah Singkat Perjalanan HMI di Era Presiden Soeharto.

Pemerintahan soeharto pada era orba sangat mengutamakan politik keseragaman dan pemusatan kekuasaan. Oleh karena itu, semua kekuatan sosial dan politik diapaksa untuk mengubah dasarnya dengan Pancasila.

Jika menolak dapat berakibat dibubarkan. Tahun 1985 pemerintah mengeluarkan kebijakan UU ormas yang mewajibkan semua ormas memakai asas tunggal Pancasila. Hmi-pun terkena dampaknya.

Kongres XVI di kota Padang pada tahun 1986 menjadi saksi pengaruh Negara yang berlebihan untuk memaksakan asas tunggal.

Majelis Penyelamat Organisasi(MPO) menolak menurut mereka Isalam adalah satu-satunya ideologi yang mereka anut dan menurut pemerintah, berarti gerakan mahasiswa sudah melupakan karakteristik mendasar, yaitu oposan dan tidak pro status.-quo.

HMI akhirnya pecah menjadi dua, HMI Pancasila menjadi HMI yang resmi diakui Negara (tahun 1999 HMI yang beralamat di ponegoro jakarta pusat dan mengubah asas pancasila menjadi islam) dan HMI Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) yang tetap kukuh mempertahankan asas Islam.

Suara kader HMI HMPO”
Perjuangan HMI pada tahun 1986 yang mana menolak asas tunggal sebagai landasan asas dalam tubuh Organisasi HMI.

Saya HMI MPO menolak dengan keras asas tunggal yang di keluarkan oleh rezim otoriter yaitu Soeharto pada masa kepimpinannya yang d kenal dengan otoriter.

Sejarah 86 di mana kader kader MPO menolak asas tunggal dan menjadi musuh negara saat itu dan melakukan perlawanan terhadap rezim sampai rezim orde baru jatuh dari tahtanya.

HMI Diponegoro pada saat itu menerimah asa tunggal sebagai asas organisasi dan melepaskan asas Islam dari asas HMI,
HMI DIPO menikmati perjuangannya dengan asas tunggal dimasa kepemimpinan Soeharto.

Kita tau bersama saat Soeharto jatuh HMI DIPO kembali k asas Islam sedangkan HMI MPO tetap dengan asas Islam dan bertahan sampai detik ini. Maka bagi suara kader MPO bahwa MPO lah yang harus di perhitungan karena sudah mempertahankan HMI sampai detik ini. Tutupnya dalam pesan elektroniknya