Timses SS “Ecek-Ecek”

Timses SS “Ecek-Ecek”

284

NUSANTARATIMES – Bambang Pacul, Ketua DPD PDIP cum Komandan Timses Ganjar-Yasin, menyatakan strategi Sudirman-Ida “ecek-ecek”. Arogant sekali.

Statement Pancul masuk kategori “mockery”. Targetnya menaikan moral Pro Ganjar. To gain the sense of power.

Target kedua: menutup ‘nyanyian’ Setya Novanto di Pengadilan KPK. Dia seret nama Puan Maharani, Pramono, Olly dan tentu saja Ganjar Pranowo.

Pacul panik. Scary. Gemetar. Skandal korupsi ektp merusak. Pacul mirip Michael Spinks yang mencoba menaikan pasar taruhan sebelum fight melawan Tyson.

Ada saja yang dikatakan Spinks untuk meruntuhkan psikologi Tyson. Dia sebut Larry Holmes was a relic. Tyson bakal dia bikin jatuh dan knocked out. Nyatanya, justru Spinks tersungkur dihajar Mike Tyson on the ring. Memalukan…!!

Di arena pilkada, Timses Ahok pernah bluffing berdasarkan survei abal-abal. Angkanya tinggi sekali. Anies-Sandi dinyatakan underdog. Alhasil, Ahok tumbang. Memalukan…!!

Salah satu ciri orang panik: inkonsisten. Di awal, Pacul bilang “ecek-ecek”. Elektabilitas Ganjar-Yasin disebut 62%. Lalu dia berkata tetap waspada, tidak tau strategi SS, ada orang kuat di belakang SS, Anies-Sandi dan belajar strategi pemenangan ke Korea Selatan.

Lah, kalo uda yakin menang, ngapain pula berguru sampe ke Korea Selatan. Jelas, Pacul sedang panik.

Di sisi lain, Timses Sudirman-Ida tahu bahwa di detik-detik terakhir, sekelompok Pro Yasin akan memainkan kartu memecah suara NU.

Mereka akan merilis propaganda Ganjar bakal bui dan Yasin yang bakal jadi gubernur. Jadi, mereka berharap sekali Ganjar terbukti terlibat skandal ektp.

Syahdan, sebaiknya Kader Marhaen dan PDI-P bloking ke Sudirman-Ida saja dari sekarang.

Lagi pula, rakyat Jateng tampaknya sangat cerdas memilih program dan kualitas daripada silsilah keturunan. Mereka lebih memilih figur dengan program baik daripada dipimpin anak kyai tanpa program jelas.

Psywar Pacul mandul bila dihadapkan dengan grafik progres elektabilitas Sudirman Said.

Mantan Menteri ESDM anti korupsi ini memulai dengan angka elektabilitas 1.2% di bulan Juli 2017. Pacul pasti mendadak galau bila disodori fakta survei koran-koran nasional yang beri angka 79% untuk Ganjar. Sekarang, survei internalnya hasilkan angka 62%. Artinya turun 17% dalam dua minggu. Ini pasti salah nyanyian Setya Novanto.

Sebaliknya, koran yang sama sebut elektabilitas Sudirman Said hanya 11%. Sedangkan Pacul bilang angkanya 22%. Artinya naik 2x lipat. Sudirman Said memang spektakuler.

Angka-angka ini sebenarnya ironis. Ganjar sudah berkuasa 5 tahun, sudah borong puluhan unit mobil baru, sudah sewa “Event Organizer” untuk pasang spanduk dan baliho, tapi alasss…hasilnya cuma segitu.

THE END

Penulis : Zeng Wei Jian