NU dan Muhammadiyah Tak Mau Ada Perpecahan di Masjid

NU dan Muhammadiyah Tak Mau Ada Perpecahan di Masjid

NUSANTARATIMES – Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan Muhammadiyah Jakarta Barat sadar betul dengan masih adanya riak-riak sosial pasca Pilkada Jakarta awal tahun 2017 lalu, dimana maih banyaknya narasi politik praktis yang digaungkan di mimbar-mimbar masjid.

Untuk itu, mereka berencana untuk menggelar kegiatan tausiyah silaturrahmi kebangsaan di Masjid Raya Al Isra, Grogol Petamburan, Jakarta Barat pada hari Kamis (26/4/2018) sekitar pukul 18.00 WIB nanti, sebagai upaya untuk mensosialisasikan kembalikan fungsi utama masjid.

“Belakangan ini gerakan yang mengatasnamakan kegiatan keagamaan semakin marak terjadi. Namun sangat disayangkan sekali gerakan tersebut justru sangat kental dengan geliat politik. Dengan kata lain ada kelompok tertentu yang dengan sengaja dan terencana memanfaatkan tempat ibadah seperti masjid untuk kepentingan politik jangka pendek,” kata salah satu penggagas kegiatan kepada wartawan hari ini.

Ia memberikan catatan bahwa berbicara urusan politik di dalam masjid memang tidak ada salahnya jika dilakukan dalam konteks yamg sesuai. Namun jika tidak, justru malah persoalan baru rentan muncul.

“Sebagai orang Muslim, tentu alergi pada politik tidak dibenarkan, sebab Islam sangat menekankan semua aspek kehidupan, tanpa terkecuali aspek politik. Bahkan Nabi Muhammad adalah seorang politikus. Namun, tempat ibadah seperti masjid sungguh tidak elok dan etis jika digunakan untuk kampanye secara terang-terangan, terlebih untuk menumbangkan lawan politik dengan memperuncing perbedaan,” tuturnya.

Mereka mengatakan bahwa sebagai generasi muda Indonesia sekaligus generasi muda kaum mulismin, menjaga kerukunan dan persatuan menjadi hal yang wajib dilakukan.

“Secara spesifik, inilah alasan generasi muda muslim memberikan beberapa sikap yang harus diikuti atau diterapkan oleh tokoh agama, pengurus masjid dan seluruh stake holder,” tegasnya.

Terakhir, mereka berharap besar seruan untuk mengembalikan fungsi masjid dapat didengar dan direalisasikan di seluruh masjid yang ada, termasuk bagi masjid yang sudah terlanjut digunakan sebagai panggung politik kelompok tertentu.

“Untuk itu, masjid harus netral. Netral bukan berarti anti politik, namun dimaksudkan untuk menghindari perpecahan. Sebab, fakta menunjukkan betapa mimbar khutbah, misalnya, dijadikan untuk tempat menebar kebencian dan sejenisnya,” tutupnya.

Saat ini pengumuman kegiatan berupa spanduk sudah dipasang di beberapa titik. Bahkan sticker dengan tagar #StopPolitisasiMasjid juga sudah tersebar di berbagai tempat di wilayah Jakarta Barat. (ibn)